Awas! Jangan Kerap Marahi Anak, Ini Akibatnya

Ilustrasi memarahi anak.


koranWedding.com - Apakah Anda sering memarahi anak?. Jika ya, Anda harus menghentikannya dari sekarang. Pasalnya mengajari kebaikan pada anak tidaklah harus menggunakan nada suara tinggi dan amarah.

Demikian yang dikatakan Pegiat Perlindungan Anak sekaligus Pendiri Yayasan SEJIWA, Diena Haryana baru-baru ini di Jakarta.

Dijelaskan Diena, mendidik kebiasaan anak akan membuat pola guratan pada otak Anak. Pola guratan di otak akan terbentuk apabila kebiasaan-kebiasaan telah tertanam dalam benak anak.

"Misalkan ajarkan anak letakkan handuk setelah mandi. Hari pertama diterapkan baik, hari kedua anak lupa, ya ingatkan lagi. Kalau anak lupa lagi, terus ingatkan hingga jadi kebiasaan baik pada anak. Nanti itu akan timbulkan guratan pada otak, sehingga miliki kebiasaan baik," kata Diena seperti dilansir Selasa (28/3/2018).

Lebih lanjut Diena katakan, apabila orang tua mengajarkan anak dengan amarah maka akan ada perkembangan lain yang terjadi. Amarah ini hanya akan membuat anak selalu merasa takut dan tidak bisa fokus berpikir.

"Kalau orang tua marah, guratan di otak anak isinya hanya "mama marah". Jadi bukan kebiasaan baik yang tertanam, tetapi malah ketakutan," kata Diena.

Ketika guratan pada otak anak terbentuk dari amarah, kata Diena ada tiga bentuk reaksi yang terjadi pada anak yakni aktif, pasif dan pasif agresif. Aktif adalah ketika anak menjadi keras seperti orang tua, pasif ketika anak tidak percaya diri dan takut, hingga pasif agresif ketika anak pendiam dan bila merasa marah akan diluapkan dengan luar biasa amarahnya.

"Bila sudah terjadi seperti itu anak akan mencari pelarian. Pelarian ini bisa positif dan jadi momen belajar sesuatu atau negatif akan melakukan tindakan diluar dugaan, seperti anak yang menembak temannya di Amerika," kata Diena. (jek)




website stat