google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0


Waspadai, 7 Hal Ini yang Picu Perceraian

Ilustrasi Perceraian.


koranWedding.com - Tentunya Anda memutuskan untuk menikah dengan niat baik. Dan ingin pernikahannya langgeng hingga nenek dan kakek. Jarang kan, ada yang menikah karena dipaksa, apalagi dengan alasan lain yang lebih nggak mungkin.

Namun, kenapa ya banyak pernikahan yang masih berakhir dengan perceraian. Padahal, nggak terjadi perselingkuhan di dalam rumah tangganya?

Meskipun perceraian adalah hal besar, penyebabnya justru lebih sering muncul dari hal yang paling mendasar. Karena kasus ini bisa saja terjadi dan menimpa siapa pun, perlu dikenali dulu nih faktor-faktor mendasar yang harus diwaspadai dan dijadikan pelajaran agar perceraian nggak menimpa rumah tanggamu kelak!

Cinta Berubah Jadi Benci

Semua orang pasti membuat kesalahan dalam hubungan, bahkan untuk hal yang paling kecil sekalipun. Dan biasanya, orang yang bersalah akan merasa termaafkan selama ia mengakui kesalahan dan mau memperbaikinya.

Tapi masalahnya, bukan berarti pasangan yang satunya mampu bergerak melewati masalah, apalagi jika masalahnya cukup kompleks. Selama ada trauma dan keraguan hal yang sama akan terulang, inilah yang nantinya akan berubah jadi kebencian penghancur pernikahan.

Solusi: Jika kamu merasa kesal pada pasangan karena apa pun, jadikan ini peringatan untuk Anda! Kebencian itu serupa karat yang bisa menggerogoti fondasi hubungan. Bicarakan langsung dan sering agar masalah terselesaikan, walau harus makan waktu lama.

Kerja Sama Tim

Ketika sudah menikah, setiap pasangan pasti komit untuk menghadapi masalah berdua sehidup semati. Tapi saat menghadapi masa sulit, sebagian orang bisa merasa seakan telah terdampar di sebuah pulau, bahkan lebih buruk.

Saking terjebaknya dalam masalah, kadang salah satunya bisa lupa memperlakukan pasangan sebagai tim yang berharga. Misalnya dengan mencoba menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri dan malah menghindari pasangan yang akhirnya tampak seolah sedang memperlakukannya seperti musuh bebuyutan.

Solusi:  Hanya mencintai satu sama lain nggak bakal secara otomatis menyelesaikan masalah. Hidup bersama itu kompleks, dengan tanggung jawab pekerjaan, rumah, keuangan, dan keluarga untuk ditangani. Setiap pasangan perlu menemukan cara untuk bisa bekerja sama, agar merasa didukung satu sama lain, dan bukan malah sebaliknya.

Bertengkar Soal Uang

Beberapa pasangan bisa saja memiliki hubungan dekat yang sempurna jika mereka bisa mencari cara untuk bicara persoalan keuangan rumah tangga. Karena seringnya, membicarakan masalah ini terus menerus justru bikin nggak nyaman.

Bicara soal keuangan itu perlu mengandalkan kemampuan bisnis. Seperti mangerjakan soal matematika, jangan pernah gunakan emosi, hitung saja dengan logika dan rumus tertentu, cari pemecahannya, dan bicaralah seperti kamu sedang mengadakan pertemuan bisnis. Jadikan ini menjadi masalah berdua, tidak boleh saling menyalahkan.

Tidak Merasa Puas

Tentunya memang tidak ada yang bisa membuat diri kita puas kecuali kita menemukan kebahagiaan kita sendiri, bukan karena bergantung pada orang lain. Jangan berharap pasangan bisa membuatmu bahagia, karena itu tugasmu.

Kalian dapat saling membantu, tetapi tidak bisa melakukannya untuk satu sama lain. Jadi, ketahui apa yang kamu butuhkan, dan bicara pada pasangan tentang bagaimana cara mendapatkannya.

Berpaling Saat Hal Buruk Menimpa

Rata-rata pasangan yang mengakhiri hubungannya dengan bercerai akan terjebak dalam cara berhubungan dengan satu sama lain yang umum dan berterima dalam masyarakat. Ketika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan sempurna, atau salah satu pasangan salah langkah, yang lainnya justru menyalahkan, mempermalukan, dan malah jadi masalah.

Jika suami istri saling menyalahkan dan bukannya mendukung, gangguan pasti terjadi antara komunikasi dan rasa percaya. Jika kepercayaan rusak, pasti muncul ketidakamanan untuk berbagi segala hal. Akibatnya, nggak ada lagi keintiman.

Solusi: Mau nggak mau harus ada satu orang yang mengalah, tidak memulai masalah, tidak berusaha mengambil alih soal benar salah sehingga keseimbangan bisa tercipta lagi.

Isteri Merasa Tidak Dihargai dan Tidak Dipentingkan

Perempuan dan laki-laki memiliki alasan yang berbeda untuk merasakan hal ini. Perempuan biasanya merasa kurang dianggap dan kewalahan akibat terus memberi sehingga merasa sedih dan menganggap dirinya tidak ada artinya. Mereka merasa harus melakukan segala hal sendirian karena tidak ada yang akan melakukannya jika bukan mereka yang turun tangan.

Biasanya perempuan akan begini karena tidak bisa atau tidak mau meminta bantuan. Mereka berharap orang di sekitarnya bisa paham dan membaca apa yang ada di dalam pikirannya, termasuk apa yang mereka butuhkan dan bisa melakukan sesuatu untuk mereka.

Ajaibnya, setelah bercerai kebanyakan perempuan akhirnya bisa melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri. Bahkan mereka tidak ingin menikah lagi hanya untuk menyerahkan dirinya dan mengurus orang lain. Lantas, mengapa hal ini tidak terpikir dan digunakan sesuai porsinya saat mereka menikah kan?

Suami Merasa Tidak Dihargai dan Tidak Diterima

Laki-laki umumnya ingin memberi keselamatan dan keamanan bagi keluarganya. Mereka yakin bahwa dengan kerja keras dan bisa mencari nafkah akan membuatnya dihargai dan dicintai. Tapi sayangnya, masalah sering muncul saat istri sering ditinggal lembur dan malah merasa diabaikan. Biasanya jika sudah begini hubungan rumah tangga jadi sering serba salah.

Solusi: Menikah itu hanya soal pengertian. Kalau dua-duanya merasa benar, pasti sulit menemukan jalan keluar. Istri yang baik hanya akan menilai usaha yang dilakukan suaminya untuk bekerja itu sebagai kerja keras.

Kalau ada masalah, segera katakan dengan baik-baik bukan malah minta dimengerti tanpa bicara jelas. Jangan lupa juga banyak bilang terima kasih dibanding melakukan yang sebaliknya. (jek/int)



google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0

website stat